Showing posts with label training. Show all posts

September 27, 2012

Yakin saja..., Lalu Training Sukses! Mudah bukan...

Saya masih ingat ketika awal berhadapan dengan peserta training. waktu itu yang saya hadapi adalah training outdoor. Sungguh saya rasakan berbeda. Berbeda dari pada berdiri di depan kelas memberikan presentasi, berbeda ketika sekedar melakukan diskusi kelompok, atau bahkan rasanya berbeda ketika rasanya memberikan sambutan dalam sebuah acara.

Kaki sedikit gemetar, jantung berdegup kencang, dan suasana jadi terasa kalut.

Mungkin itu biasa terjadi kepada hampir setiap orang yang pertama kali melakukan sesuatu. dan kali ini saya kaitkan ketika pertama kali menjadi fasilitator dalam training.

kemampuan kita terasa di tantang, belajar kita yang teoritis tentang training seakan diuji hari itu.

Tapi saya belajar satu hal. Bahwa keyakinan kita bisa melakukan sangat berpengaruh pada kondisi kita saat menghadapi situasi semacam itu. Yang yakin saja.., kadang masih sulit menghilangkan gemetaran, apalagi yang tidak yakin (semoga tidak pingsan, hehehe).

Yah...
salah satu kunci untuk berhasil menjadi trainer (barangkali untuk semua bidang), adalah keyakinan.
Keyakinan menuntun kita untuk tenang dan menuntun kepada kemampuan pengendalian diri (self-control) yang lebih baik, yang akan mendukung perilaku-perilaku kita.

Ketika anda gugup bertemu peserta, YAKIN saja bahwa anda adalah trainer yang handal.
Ketika anda kurang percaya diri, YAKIN saja dengan posisi anda sebagai Trainer
Ketika anda mulai panik, YAKIN saja anda mampu mengendalikan keadaan
Ketika anda mulai bingung, YAKIN saja bahwa yang anda lakukan benar
Ketika anda benar-benar bingung, ya... bertanyalah pada yang lebih tahu (hehehe)

tapi intinya, keyakinan memberikan kita kesempatan untuk menciptakan suasana internal yang membangun di dalam diri kita.
tentu kita bukan anak-anak lagi, yang akan percaya bahwa ketika kita yakin skill kita akan meningkat begitu saja layaknya super saiya. tidak. skill di dapat dari belajar. namun skill yang telah kita dapatkan bisa tiba-tiba sulit dimunculkan dan tiba-tiba hilang begitu kita tidak yakin.

mungkin banyak orang yang kehilangan kemampuan berbicaranya, ketika pertama kali berhadapan dengan ribuan pendengar. padahal ia sudah berlatih sekian lama.

pengaruh lingkungan baru memang sangat mempengaruhi faktor psikis kita. namun dengan menyadarkan diri, dan meyakinkan diri, kita kan mampu mengontrol diri kita menunjukkan performa terbaik kita.

coba saja, dan anda akan kaget ketika dengan cepat training berakhir, DAN anda ketagihan untuk melakukannya lagi.

YAKIN saja, karena Anda TRAINERnya. PESERTA hanya percaya pada TRAINER yang meYAKINkan
sumber: http://2.bp.blogspot.com

read more

Rumus Trainer Hebat = Menjadi Diri Sendiri + Belajar

Dunia training sudah merebak bagai jamur. Orang dengan latar belakang apapun, dari mana pun, dengan berbagai jenis pendidikan bisa menjadi trainer. baik itu indoor atau outdoor. Jadi tidak aneh jika kita melihat kenyataan banyak sekali trainer atau pembicara besar baru yang bermunculan setiap tahunnya, bahkan setiap semesternya.

Namun, hal itu justru menjadi salah satu bukti bahwa dunia training masih akan berkembang lebih dahsyat lagi. di banyak tempat, di berbagai kota, propinsi, dan berbagai negara. Luar biasanya, trainer yang hebat bisa menjadi model bagi para trainer yang notabene masih belajar.

Bagi kita yang belajar menjadi trainer, sangat disarankan untuk melihat banyak contoh dari trainer-trainer yang telah sukses. Banyak hal yang bisa di modelling. cara menyampaikan, cara belajar, cara mencari market, dan bentuk lainnya. Karena kita akan lebih mudah untuk sukses, dengan mengikuti model sukses.

Namun ada RAMBU-RAMBU yang perlu diperhatikan.
Anda boleh melakukan modeling, namun yang sangat penting yang harus diingat, Bahwa setiap trainer itu punya karakteristik masing-masing. termasuk anda. dan kita manusia memang di lahirkan secara berbeda baik fisik maupun kepribadian. bahkan anak kembar pun akan memiliki perbedaan spesifik di antara mereka.

Apalagi antar trainer. apalagi anda dan trainer manapun.
sudah pasti berbeda. latar belakang, kebiasaan, fisik, kepribadian, penampilan, dan lainnya.

Jadi, segiat apapun anda melakukan modelling jangan anda tinggalkan apa yang menjadi karakteristik anda. Jangan begitu anda melihat ada trainer yang sukses dengan gaya motivasi dan suara keras, anda mengikuti. padahal anda termasuk orang dengan karakteristik suara lembut dan tidak suka teriak-teriak.

Para trainer, jadilah diri anda sendiri.
(Bahkan ini bisa jadi judul training)

Anda punya karakteristik tersendiri sebagai trainer. yang bisa jadi bisa sama atau berbeda dengan trainer lainnya. Tidak masalah melihat bagaimana trainer lain memberi training. bagaimana gaya nya, cara nya, atau penampilannya. kalau itu cocok bagi anda dan sesuai dengan karakteristik anda silakan untuk dilanjutkan. kalau anda merasa kurang pas, Jadilah diri anda, jangan memaksakan untuk malakukan imitasi.

Mario teguh, punya gaya bahasa yang khas.
Ippho santoso, punya cara yang khas
Andre Wongso, punya karakteristik suara yang membahana
sumber: http://3.bp.blogspot.com/
Bong Candra, beda lagi bukan.

mereka para trainer sukses. tapi yang sama-sama sukses ternyata karakter panggung nya demikian berbeda.

Jadi kalau anda ingin jadi trainer hebat. anda bisa belajar dari mereka. namun bukan sekedar untuk imitasi. tetaplah jadi diri anda sendiri dan karakteristik training yang anda bawakan.

Anda justru terlihat hebat saat menjadi diri sendiri, bukan bertopeng orang lain. orang lain bisa saja sukses dengan karakteristik tertentu, tapi Anda akan sukses dengan karakteristik anda

Jadi rumusnya, tetap jadi diri sendiri, tetap miliki semangat untuk belajar.
Dan selamat menjadi trainer Hebat
read more

September 25, 2012

DETERMINE 1# (Membuatnya Lebih baih Kini dan Nanti)

Akhirnya, berhasil juga menyesaikan proses deliver yang menengangkan.
anda puas akan hasilnya.

bisa jadi anda begitu puas dan antusias.
pengalaman pertama, akhir yang menyenangkan, atau respon yang baik dari peserta.
namun barangkali bisa jadi trauma bagi anda, karena anak-anak yang outbound dengan anda hampir hanyut di sungai (semoga tidak terjadi)

Nah dalam sesi berikutnya, kita kan berbicara tentang Evaluasi.
ya, Determine sebagai langkah terakhir artinya melakukan evaluasi terhadap apa yang telah anda lakukan.

hayoo... apa yang sudah anda lakukan..
ya tentu saja training..

Evaluasi penting, tentu saja untuk berbagai kegiatan yang tidak hanya training saja.

Fungsinya untuk menilai semua aspekdari training yang sudah berlangsung.
mulai dari aspek persiapan, pelaksanaan, hingga sesi akhir training, bahkan paska training.

jadi evaluasi dapat meliputi evaluasi internal dan eksternal.

Evaluasi internal adalah evaluasi kegiatan training yang menjadi tanggung jawab kita.
dari persiapan hingga melaksanakan. barangkali ada masalah dengan klien di awal, kesulitan membuat konsep, ada barang yang tertinggal, kesalahan, atau malah berbagai hal yang baik-baik dari tim anda. anda berhasil membuat orang yang awalnya canggung jadi ekspresif, atau anda berhasil menguasai peserta dengan sedemikian baiknya.
semua evaluasi yang bisa diAMATI

semuanya..
untuk memberikan penilaian atas training kita, sehingga kita tahu kelebihan dan kelemahan, entah itu keseluruhan kegiatan, personal trainer, atau kondisi di lapangan. sehingga yang baik bisa di latih terus dan ditingkatkan, yang menjadi kelemahan dapat dikurangi dan dihilangkan untuk training ke depan.

evaluasi training juga meliputi evaluasi eksternal.
yaitu evaluasi dari dan kepada peserta.

Kickpatrick, seorang trainer profesional membagi level evaluasi.
level 4# Result/hasil (level tertinggi)
level 3# Behavior/Perilaku
level 2# Learning/Pembelajaran
level 1# Reaksi Peserta

bagaimana penjelasan dari level-level tersebut

lanjutkan membaca vol.2  
DETERMINE 2# (Kickpatrik, Level of Evaluation)
read more

DELIVER (Seni Memberi yang tak Sekedar Memberi)

sumber: http://clearedinc.webs.com
Langkah pertama, melakukan diagnosa
Langkah kedua, men-desain training

Selanjutnya, adalah action..
ini adalah waktunya, di mana diagnosa kita akan diuji dan desain kita akan dibuktikan keampuhannya.

Wow,, sungguh-sungguh berharga moment yang satu ini.
moment di mana kita, para trainer bertemu langsung dengan orang-orang yang sudah kita dalami profilnya. orang-orang yang kita mungkin belum pernah bertatap muka dengan mereka, tapi sudah kita buatkan konsep acara yang hebat buat mereka

DELIVER.. berarti menyampaikan, mengantar, memberi.
kalau dipanjangkan, maka akan menghasilkan deskripsi bahw deliver adalah menyampaikan training sesuai dengan konsep training yang telah dibuat.

Jadi konsep yang tadinya hanya teori praktis dan beberapa imajinasi, kini akan ditunjukkan secara praktek. menarik bukan. kalau anda baru dalam memberi training, pasti akan begitu berharapnya konsep yang sudah susah payah anda buat, sukses besar. bukan saja yang baru, trainer yang sudah berpengalaman menaruh harapan besar pada proses deliver ini.

karena konsep yang dibuat hanya akan menjadi omomg kosong, jika deliver nya gagal. karena diagnosa yag dibuat hanya akan menjadi informasi belaka, jika deliver jauh dari baik.

Ibarat membuat kue. bahan sudah ada (informasi), komposisi sudah lengkap, dan panduan pembuatan sudah siap. namun kue yang dibuat terlalu banyak telur, atau hangus, atau tidak bantet. Pelaksanaan tidak sesuai dengan panduan, hasil tidak seperti yang diharapkan, dan bahan baku sudah terpakai untuk kue yang salah jadi itu.

Jadi pelaksanaan training menjadi moment penting,

Ini saya sebut sebagai moment memberi, tapi tidk sekedar memberi, karena butuh banyak seni (baca: skill) untuk membuatnya berhasil.

seorang trainer harus dibekali dengan banyak hal untuk sukses dalam hal ini, dan tentu saja JAM TERBANG (pengalaman) menjadi salah satu faktor penting.

#skill berkomunikasi
#skill management kelompok
#skill public speaking
#skill mengkreasikan acara
#skill membangun trust dengan peserta
#skill improvisasi
#skill memandu
#skill mengarahkan
#skill membuat slide
#skill memasang instalasi dalam game
#skill memotivasi

#dan daftarnya masih panjang untuk dilanjutkan.

Inilah pembuktian dari seni training. Penguasaan kelas/forum, pembangkitan semangat, ataupun sharing yang berkualitas. di sini akan terlihat kualitas trainer, di lapangan sebenarnya.

Proses ini tidak bisa sekedar dipelajari dengan teori.
namun PRAKTEK, praktek, praktek, dan praktek.

semakin anda banyak aktif dalam deliver sesungguhnya, anda akan semakin terbiasa dan skill anda meningkat.
seseorang akan mencapai tingkat profesional setelah melewati 10.000 jam, untuk belajar hal-hal yang menjadi bidangnya.

Anda ingin hebat dalam DELIVER, belajarlah lalu praktikkan.

jika anda tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan peserta langsung, belajarlah dengan cara roleplay atau simulasi. memang sederhana rumusnya, praktikkan dan jadilah kreatif.

semakin anda BELAJAR, semakin anda PRAKTEK, semakin anda HEBAT
read more

September 24, 2012

Outbound itu TRAINING, Nggak Percaya ??

Training itu apa sih..?
Training itu secara ringkas adalah proses merubah pemikiran, sikap, dan perilaku, dari yang tidak diharapkan menuju yang yang diharapkan.

Lalu, jika ditanya, apa itu Outbound..?
apa jawaban anda?
kegiatan bermain, bersenang-senang, refreshing, ada game-gamenya, basah, lelah, tapi tambah akrab, dan sarana melepas stress dari dunia nyata, bla..bla...bla.............

jawaban yang barang kali akan panjang.

Tapi jika saya katakan pada anda, bahwa OUTBOUND itu TRAINING.. apakah anda percaya?

ya.. karena memang demikian adanya.. Outbound itu pada dasarnya adalah salah satu dari jenis Training.

Ada berbagai macam jenis training. Ada tipe seminar, On the Job Training, Magang, Simulasi, Roleplay, Studi kasus, Games, Modeling, Training Kelompok, Adventure Training, dll. Adventure Training itulah yang secara bahasa sehari-hari disebut Outbound.

Adventure Training adalah training berbau lapangan. Rafting, rapelling, sampai yang permainan low-impact seperti spider web, perang air, dan sebagainya.

Game itu sendiri hanya sebuah sarana. sama seperti ketika dalam training indoor, ada trainer yang memakai video, cerita, puisi barangkali, dan lain sebagainya, yang itu semua hanya media untuk menyampaikan pesan kepada peserta.

begitu juga game, adalah media penyampai pesan kepada peserta. Kelebihan dari Outbound adalah, trainer yang berkualitas telah mendesain sedemikian rupa permainan yang ada, sehingga akan memberikan pengalaman nyata bagi peserta. Maksud dari pengalaman nyata adalah peserta diajak untuk langsung merasakan bagaimana rasanya bekerja sama, berkorban, dan berkomunikasi dalam tim.

Yang kemudian, pengalaman-pengalaman ini akan diangkat ke permukaan dengan teknik tertentu yang dilakukan trainer. entah diskusi, menunjukkan foto, menciptakan suasan, atau lainnya. sehingga proses pemahaman disertai langsung oleh kesadaran tentang rasa dan cara melakukan. misal orang diajarkan tentang sikap tanggung jawab. dalam game yang didesain untuk melihat masalah tanggung jawab, peserta akan mengerti rasanya memiliki tanggung jawab dalam sebuah game. ia merasakan simulasi tanggung jawab. ketika trainer memaparkan tentang teorinya, secara fisik ia sudah tahu karena sudah merasakan. tinggal bagaimana cara trainer, menginternalisasikan apa yang telah diperoleh peserta, agar apa yang telah dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan di kantor atau organisasi.

Jadi Game hanya media belajar saja.
dan Outbound adalah bagian dari cara-cara Training.
Bisa saja materi tentang tanggung jawab tadi diberikan dalam training indoor.
atau bisa juga digabungkan dengan sesi outbound dan sesi indoor.

semua tergantung apa yang akan dituju, bagaimana kondisi dan situasinya.
Intinya, tujuan utama memilih cara Training adalah untuk mencapai efektivitas mencapai tujuan yang diharapkan.

jadi OUTBOUND itu TRAINING juga..

sumber: http://www.solutionsdeveloped.co.uk

______________________________________________________
read more

Fasilitator Atau Trainer, co-Trainer atau co-Fasilitator


Kadang ada peserta yang menanyakan, dia itu dalam training ini Fasilitator atau Trainer nya.
kadang masih bingung, apa beda fasilitator dan trainer.

ada beberapa profesional yang membedakan, namun ada pula yang menyamakan. mau nama nya trainer apa fasilitator, ya mereka yang memfasilitasi training, begitu kata yang menyamakan.

boleh lah kalau kita diskusi sejenak..

Trainer, seperti sudah kita kenal adalah orang yang menyuguhkan training atau aktivitas dalam Trainng atau Outbound.
Sebenarnya fungsi trainer ini juga namanya MEMFASILITASI. memfasilitasi siapa?
tentu saja memfasilitasi peserta untuk ber-training atau ber-outbound.
Lalu siapa trainer, siapa fasilitator. apa mereka sama?

kita lihat Job yang biasa muncul daam training
Trainer : orang yang menjadi master dari proses pembelajaran. narasumber bahasa kerennya
co-Trainer : orang yang bertugas untuk membantu trainer. menyiapkan bahan, mungkin mengisi ice-breaking, atau menjadi timer.

nama fasilitator lebih sering muncul dalam outbound.
fasilitator adalah orang yang memfasilitasi aktivitas Outbound
dan co-Fasilitator adalah orang yang membantu fasilitator dalam memfasilitasi peserta (semoga lidah ada tidak terpelintir mengucap fasilitator berkali-kali, hehehe)

nah kalau dalam Outbound ini, biasanya ada orang khusus yang akan memberikan pemaknaan. kalau dalam bahasa gaulnya debrief. Nah orang yang memberi pemaknaan ini disebut trainer.

tapi sering terjadi kebingungan, kalau ia memfasilitasi game sekaligus memaknai, lalu namanya apa..?

Bagi saya, ini sekedar istilah saja.
Trainer dan Fasilitator adalah istilah untuk menciptakan job description.

misal ada seorang psikolog yang akan memberikan materi dan pemaknaan selepas game.
ia dibantu beberapa mahasiswa profesional yang akan menyuguhkan game pada peserta.

maka sang psikolog disebut Trainer
sang mahasiswa yang menjadi Fasilitator utamadisebut fasilitator. beberapa mahasiswa yang membantu disebut co-Fasilitator.

lalu mana co-Trainer nya..?

terkadang mahasiswa itu disebut juga co-Trainer. jadi pembantunya co-Trainer itu co-co-Trainer (hahaha), yang co-Trainer itu semua Mahasiswa mau satu atau tiga sekalipun (kan hanya status)

ya.. lagi-lagi saya katakan bahwa semua itu hanya sebutan saja.
status yang memudahkan. seperti fungsi nama. kamu Andi, kamu Budi, kamu Sari, kamu Dina, maka keempat orang ini bisa dibedakan dari namanya, bukan?

secara tidak langsung status trainer atau fasilitator terkadang akan menempatkan sebutan-sebutan itu ke dalam level status
1. Trainer
2. co-Trainer
3. Fasilitator
4. co-Fasilitator

terserah bagi para lembaga training ingin menyebutnya apa. Trainer atau Fasilitator. tidak ada masalah.

Jadi Anda masih bingung??
intinya, wong tidak ada hak paten, kenapa kita bingung dan ribut.. iya nggak..

mending tetep kita Outbound dan Training ceria..
OK..

silakan komentar
read more

DESIGN atau DESAIN ?? (sama artinya, Jelas Pentingnya) 1#

-gagal merencanakan, berarti merencanakan gagal-

Anda sekeluarga ingin pergi dari Jogja ke Bandung. Keluarga yang akan anda ajak jumlahnya 9 orang. dengan barang bawaan masing-masing. dan rencananya di bandung anda akan mengajak keluarga anda 2 hari berkeliling kota bandung, mengunjungi tempat-tempat wisata di sana. dari ujung hingga ujung kalau bisa.

kendaraan apa yang akan anda gunakan untuk ke sana. motor, mobil, mini bus, bus, truk, kereta api, pesawat, atau helikopter.
anda sudah tahu kondisi dan harapan di lokasi tujuan. apa anda akan menggunakan motor? anda perlu setidaknya 5 motor, dan touring bersama menuju Bandung. tapi apakah itu efektif.. malah-malah sekeluarga anda capek di jalan, dan juga lebih rawan kecelakaan. Kalau hujan akan repot sekali. Atau mau menggunakan kendaraan umum, yang barangkali juga akan repot. atau akan menyewa mini-bus, memakai mobil atau sewa helikopter barangkali. 
Anda sesuaikan dengan dana dan kemampuan. Harapan Anda, perjalanan anda menyenangkan, efektif, dan aman, sekaligus anda sekeluarga bisa terus bercengkerama.


Merencanakan pergi ke Bandung, bisa menjadi gambaran merencanakan Training atau Outbound. anda bisa memperkirakan akan membawa apa saja ke bandung, naik apa, dan bagaimana caranya.

Sama, dalam training, mendesain berarti merencanakan Training. Merencanakan akan memberikan training atau Outbound yang seperti apa, dengan cara bagaimana, dan dengan waktu berapa lama. Agar mencapai tujuan.

TUJUAN YANG MANA ..?
masih ingat bahwa kita sudah masuk dalam tahap ke dua membuat training. Tahap pertama nya adalah mengumpulkan informasi dari klien untuk memahami berbagai hal yang diperlukan. Sebutannya adalah Diagnose. Kalau belum membaca, Anda perlu tahu dulu bagian diagnose ini, (buka artikel Diagnose 1# atau Diagnose 2#)

Jadi tujuan yang dimaksud, tujuan dari klien. Design ini diartikan juga sebagai teknik membahasakan informasi yang sudah didapatkan ke dalam konsep atau rencana Training atau Outbound.
bagaimana cara membuatnya anda bisa lihat di artikel ke 2 di sini (DESIGN atau DESAIN ?? (sama artinya, Jelas Pentingnya) 2#). 

Pentingnya melakukan pembuatan KONSEP yang JELAS, adalah agar ada rencana matang tentang Traning yang akan dilakukan. Tahu bagaimana alur cerita yang akan dibangun, tahu bagaimana mengondisikan peserta, tahu cara membuat konsep. Yang nantinya akan terbentuk yang biasa disebut modul training. Saya secara khusus juga telah membuat artikel tentang Modul Training, klik di sini.

Apa fungsi men-Desain ?
1# membuat modul, membahasakan informasi yang bersifat teori ke bentuk teori praktis
2# Desain Konsep acara yang ada di dalam modul akan menggambarkan Training yang akan dilakukan. Sehingga gambaran Training menjadi jelas.
3# Desain Konsep acara memberikan informasi tentang training untuk dipahami klien. dan juga oleh Trainer dan co-Trainer.
4# Persiapan dan kebutuhan dapat dilihat dengan jelas. Sehingga segala kekurangan perlengkapan dan kesalahan pelaksanaan, serta miss-com dapat di minimalisir.


men-Desain Training, adalah nyawa tersendiri bagi sebuah training. Sama seperti ketika penjahit baju akan membuat baju. Ia perlu mendesain pola, memperkirakan bahan, dan menyiapkan perlengkapan. Tanpa desain pola, bisa jadi baju yang dibuat justru ukurannya tidak pas, atau malah tidak jadi sama sekali.

Jadi ini langkah ke dua super-super penting. Jadi, meninggalkannya sama dengan menggagalkan training..

baca juga :

DESIGN atau DESAIN ?? (sama artinya, Jelas Pentingnya) 2# 
DIAGNOSE 2# (Langkah Awal Super Penting) 
DIAGNOSE 1# (Mencari Tahu Apa yang Perlu)
read more

September 22, 2012

DIAGNOSE 1# (Mencari Tahu Apa yang Perlu)

Ini adalah alur pertama untuk membuat suatu Outbound atau Training.

# Diagnose #
untuk membuat Training yang baik dan tepat serta berdampak bagi peserta, maka perlu untuk memahami terlebih dahulu apa yang diperlukan oleh peserta, atau klien.
Mengapa?? karena kita perlu tahu dulu informasi-informasi yang sesuai untuk memberikan outbound atau training yang tepat. Seperti kita mau pergi jalan-jalan, kita perlu tahu berbagai hal tentang kondisi cuaca, lingkungan, kemacetan, kemana akan pergi. Informasi ini nantinya akan kita gunakan untuk menyesuaikan apa yang perlu disiapkan. Perlu payung kah? pakai mobil atau motor atau naik bus kah? bawa baju tebal atau tipis, dan sebagainya.

Demikian pula informasi tentang klien, membantu kita untuk menentukan apa yang bisa kita berikan untuk klien. Sekaligus menentukan apa kebutuhan klien dan menyesuaikan dengan kemampuan kita sebagai trainer.

Sama seperti jika kita penjual kue ulang tahun. maka ketika ada pelanggan mau memesan kue, kita akan bertanya kue seperti apa, dihias kayak apa, seharga berapa, atau lainnya?

Jadi sudah paham pentingnya. Kita perlu tahu apa kebutuhan dan maunya klien untuk menentukan apa yang akan diberikan untuk klien, sehingga kita bisa mengatur strategi yang tepat.

informasi-informasi yang perlu didapatkan dari klien, antara lain
# Analisis Kebutuhan (analisis masalah, analisis tujuan)
# Latar Belakang Peserta (asal, status, jumlah, dll)
# Kondisi Klien
# Biaya yang disepakati
# Tempat yang disepakati
# dan lain-lain

mari kita cek satu per satu ..

1. Analisis Kebutuhan
dalam bahasa yang lebih terkenal yaitu Need Assesment. mencari tahu apa masalah yang dihadapi oleh klien atau tim-nya. Yang pertama cari tahu apa tujuan klien. Misal ada klien minta fasilitasi outbound.
Cari tahu dulu apa tujuan klien. apakah untuk refreshing, apakah untuk upgrading tim, apakah untuk meningkatkan kekompakan, atau untuk tujuan lain.
Tentu tujuan ini akan beda antar satu klien dengan klien yang lainnya. misal mereka ingin pelatihan dalam bentuk outbound, keinginan mereka pun beda-beda. ada yang ingin tentang leadership, team building, loyalitas, dan lain sebagainya.
Nah, kita harus tahu apa tujuan mereka meminta fasilitasi outbound.
Need Assesment perlu didalami lagi untuk mengetahui mengapa klien minta fasilitasi yang demikian itu. Apa karena memang untuk upgrading, atau untuk perbaikan, atau untuk penciptaan dinamika kelompok. Alasan itu akan semakin menjadi informasi yang kuat untuk kita, untuk memahami dinamika klien. Nah ini pun harus memperhatikan apakah klien berkenan untuk didalami, atau tidak. jangan memaksa klien jika tidak mau.
Kadang, bisa juga terjadi klien merasa bahwa kekompakan tim mereka kurang, padahal sebenarnya yang salah adalah masalah integritas. Klien merasa bahwa anak didik mereka tidak patuh, padahal sikap gurunya yang membuat nya seperti itu. Kadang klien salah memahami sumber masalah. sehingga kita sebagai fasilitator dapat mencari tahu sumber yang tepat dan memberikan saran kepada klien.
Sehingga klien tidak salah target dalam mengikuti atau mengikutkan traning kita.

2. Latar Belakang Peserta
Trainer perlu tahu latar belakang peserta. Umur para peserta. apakah dicampur antara anak dengan remaja, atau umur 30 tahun ke atas. ini berfungsi agar kita tahu tentang aktivitas apa yang tepat. tentu saja orang tua berumur 50 tahun ke atas, perlu pendekatan aktivitas berbeda dari pada anak-anak dan remaja, (kita perdalam di artikel Design)
selain itu cari tahu jumlah peserta. perlengkapan, tempat, tenaga akan sangat terkait dengan jumlah peserta. Jumlah peserta juga dapat memberikan informasi berapa lama outbound dapat dilaksanakan.
Perlu juga tahu apa status mereka. Anak sekolah, guru, eksekutif, masyarakat lokal, atau siapapun. sehingga akan bermanfaat menentukan cara dan arah komunikasi kita kepada peserta. Informasi tentang Latar Belakang peserta akan menyiapkan kesiapan trainer, agar tahu pendengar seperti apa yang akan dihadapi. Anda perlu memberikan stimulus berbeda dan menyikapi peserta secara berbeda, karena berbeda latar belakang, beda sikap mereka, harapan mereka, tujuan, pengalaman, sifat, dan berbeda di sisi yang lain.

3. Kondisi Klien
Latar belakang peserta diberikan sudah tahu. sekarang lihat kondisi peserta. Mereka orang yang seperti apa. apakah mereka orang-orang yang fit dengan tenaga berlebih, atau peserta adalah sekelompok orang yang sangat akrab atau justru kebalikan.
anda bisa menemukan informasi ini, bersamaan saat mencari informasi dalam Need Assesment.

4. Biaya yang disepakati
Harus ada kesepakatan yang sesuai dengan biaya. Biaya bisa saja relatif, di mana antar penyedia fasilitas Outbound dan Training bisa saja berbeda.
Biaya yang ada akan membantu kita untuk menentukan operasional, fee untuk fasilitator, ataupun profit. Intinya, informasi ini akan berguna agar kita melakukan pengelolaan biaya secara tepat

5. Tempat yang disepakati
Tempat juga informasi yang penting dipahami. apakah tempatnya di tempat kita, kita yang mencarikan, atau klien yang menentukan. Tempat ini perlu di beri

6. dan lain-lain
Informasi lainnya juga ada yang kadang diperlukan. misal sebelum materi kita, atau outbound yang kita pandu, apakah sebelumnya ada kegiatan. kalau ada, kegiatan apa dan sudah berapa lama. Bisa jadi sebelum kita tampil, ternyata peserta sudah dihabis-habiskan tenaganya, dan ketika bertemu kita tinggal sisa-sisa tenaga. Kalau kita pikir mereka masih fresh, padahal kondisinya jelas berkebalikan.. wah... bisa kacau ngasih training nya. bukannya berhasil malah stress sendiri, apalagi jika respon peserta jauh dari harapan.

DIAGNOSE itu seni, perlu didalami. barangkali ada berbagai hal yang perlu didalami lagi, ada yang perlu di gali lagi. Maka kita harus cerdas menggali informasi, agar dapat memberikan stimulus yang tepat untuk hasil yang optimal. Yang pasti ini tidak boleh dilewatkan, karena merupakan hal yang penting untuk menindaklanjuti dan memberikan obat yang tepat bagi masalah yang ada

lanjutkan membaca diagnose 2# (klik di sini)
read more

4D, Art of Training (Diagnose I Design I Deliver I Determine “Seni Membangun Training Yang Super”)

Kemampuan untuk memberikan Training perlu terus diasah dan dilatih akan menjadi semakin professional. Para ahli percaya bahwa nilai Profesionalitas itu = 10.000 jam. Jadi orang yang ahli dan benar-benar professional di bidangnya, setidak-tidaknya telah memiliki jam terbang terhadap keahlian itu sebanyak 10.000 jam.

Jumlah yang cukup banyak ya.. namun jika jam demi jam, setiap hari kita kumpulkan dan disiplin terus kita berlatih, nanti kita lama-lama juga akan mencapai 10.000 jam. Hitung saja sehari kita berlatih 4-5 jam. Maka dalam waktu lebih kurang 6 tahun kita akan menjadi professional di bidang yang kita geluti. Termasuk ini kegiatan yang bernama Outbound. Semakin kita latih semakin ahli saja kita menjadi Trainer.
Kali ini saya ingin membongkar sisi teknis dari Outbound dan Training. Sisi teknis tentu tidak lepas dari sisi teori, jadi teori jangan lupa juga. Karena teori dan teknis hubungannya adalah saling mendukung. Yap, kali ini kita akan belajar bagaimana sebuah training dibuat hingga di evaluasi.
Ini adalah proses para Trainer mengkreasikan Training atau Outbound yang mereka lakukan.

Mereka menyebutnya sebagai 4D.

Tenang…
Saya akan jelaskan satu-per satu..
Namun untuk lebih detailnya, anda bisa melihat satu per satu artikel yang membahas tentang hal tersebut.
Ini dia penjelesan tentang  4D, langkah membangun Training dan Outbound
Anda tentu bisa meraba apa arti dari singkatan ‘D’ yang pertama ini. Kalau dalam bahasa kedokteran, kita biasa mendengar diagnosis. “dokter mendiagnosa penyakit di perut” atau “dokter mendiagnosa ada kelainan di…”
Diagnosa secara mudah mungkin bisa diartikan pemeriksaan. Jadi tidak sekedar diperkirakan karena sudah ada pemeriksaan. Coba anda ke dokter, menyatakan keluhan sakit perut, dan dokter nya langsung bilang mungkin anda sakit ginjal.. Lantas apa anda percaya begitu saja, lha wong belum ada pemeriksaan. Anda malah mungkin akan mengatakan “ah… mana mungkin Dok..”.
Coba perhatikan urutannya. Ada keluhan, lalu dokter memeriksa (diagnose), dokter menyampaikan hasil.
Urutan ini menggambarkan pula jika diterapkan dalam Training.
Jadi, untuk memberikan Training, perlu ada diagnosa pada klien yang akan kita beri Training atau Outbound. Agar kita tahu, apa mau klien, bagaimana kondisi peserta, apa tujuan klien, apa permasalahan yang dialami klien sehingga mengadakan Training. Kita mengadakan diagnosa juga supaya tahu latar belakang peserta, kondisi mereka, jumlah, dan lain sebagainya.
Untuk mempelajari lebih jauh tentang Diagnose, buka artikel berikut (klik di sini)
Setelah didiagnosa, selanjutnya adalah langkah super penting dalam Training.
Anda tahu?
Ya benar, .. Mendesain alias membuat konsep Training atau Outbound. Inilah seni kedua dari Training. Trainer harus mampu membahasakan hasil diagnosa ke dalam bentuk konsep kegiatan. Bagaimana tujuan training dari diagnosa, dapat dicapaikan melalui training.
Bagaimana latar belakang peserta tertentu harus dapat di fasilitasi. Bagaimana suatu permasalahan yang dihadapi klien dapat dituntaskan melalui Outbound atau training ini..
Tampak berat..?
Ya.. (beberapa Trainer ahli bahkan memerlukan 12 jam membuat konsep, untuk mengisi 3-4 jam saja. Apalagi untuk 2-3 hari atau bahkan 1-2 pekan)
Memang ini adalah proses super penting. Seakan ini menjadi langkah mengatur strategi sebelum bertanding. Strategi yang salah dapat menyebabkan gagal dan kekalahan. Maka anda akan memulai keberhasilan Outbound atau Training dari konsep anda. Training dengan Film, dengan ceramah, diskusi, atau Outbound dengan Game 1, 2, 3, dengan rule a, b, s. Anda akan harus membuat rencana dan gambaran yang tepat dan seusai.
Bisa dikatakan porosnya di sini. Diagnosa bisa benar, tapi kalau Design nya salah, selanjutnya akan salah. Outbound atau training bisa berjalan baik, tapi kalau design nya salah, mana bisa menghasilkan tujuan yang diharapkan. Diagnosa memberi anda komposisi, dan Design menantang anda untuk mengatur komposisi agar sebuah roti yang baik dapat tercipta. Kalau pengaturan komposisi salah bisa jadi bukan roti yang terbuat, tapi adonan rusak.
Untuk tahu lebih dalam tentang Design, buka artikel berikut (klik di sini)
Sudah tercipta konsep, seni selanjutnya.. adalah menyampaikan Outbound atau Training. Lagi-lagi masalah membahasakan. Kali ini anda ditantang untuk membahasakan konsep ke dalam aktifitas lapangan yang bersifat fisik. Ingat, Design itu ada di atas kertas, atas hasil pemikiran dan diskusi. Dengan kata lain design itu TEORI. Sedang deliver, kita berbicara TEKNIS di lapangan.
Kita berbicara bagaimana melakukan instalasi, bagaimana membuat peserta tertarik, dan bagaimana menyampaikan Outbound atau Training dengan menarik.
Skill lain dari Outbound. Jadi memang kita sedang berbicara multiple skill. Skill mendiagnosa, mendesain, dan seni menyampaikan. Komunikasi, empati, dan berbagai skill diperlukan dalam proses deliver ini. Wow..
Jadi jika ingin mengetahui lebih jauh tentang Deliver (cek di sini)
Ini colling down nya.. tapi tetap menjadi proses penting. “determine” yaitu melakukan evaluasi dari Outbound yang telah anda lakukan. Evaluasi tentu penting, karena akan memberikan masukan lebih atau kekurangan dari pelaksanaan. Jadi bisa diperbaiki lagi untuk yang akan datang.
Tapi evaluasi tidak sesederhana ini juga. Evaluasi hasil peserta, apakah tujuan tercapai. Tentang ekspektasi peserta, tentang perubahan dari diri peserta. Bahkan ada perhitungan khusus tentang sejauh apa keuntungan klien dari Training yang diberikan.
Cari di search engine tentang ROI (Return of Investment), tentang konversi hasil training ke bentuk uang.
Jadi selain evaluasi Internal, juga ada evaluasi eksternal kepada klien.
Karena kesuksesan training ditentukan pada DAMPAK apa yang dihasilkan dari Training, bukan sekedar pelaksanaan.. Ok
Untuk lebih tahu tentang evaluasi (anda bisa lihat di sini)
 
Itu tadi langkah-langkah dasar membangun Outbound atau Training..
Dan penting untuk dipahami, dan karena dasar ada berbagai skill pengembangan yang perlu dimiliki. Dan kita akan belajar secara lebih detail tentang 4D.

read more
Blogger Template by Clairvo