Showing posts with label outbound. Show all posts

September 25, 2012

DETERMINE 1# (Membuatnya Lebih baih Kini dan Nanti)

Akhirnya, berhasil juga menyesaikan proses deliver yang menengangkan.
anda puas akan hasilnya.

bisa jadi anda begitu puas dan antusias.
pengalaman pertama, akhir yang menyenangkan, atau respon yang baik dari peserta.
namun barangkali bisa jadi trauma bagi anda, karena anak-anak yang outbound dengan anda hampir hanyut di sungai (semoga tidak terjadi)

Nah dalam sesi berikutnya, kita kan berbicara tentang Evaluasi.
ya, Determine sebagai langkah terakhir artinya melakukan evaluasi terhadap apa yang telah anda lakukan.

hayoo... apa yang sudah anda lakukan..
ya tentu saja training..

Evaluasi penting, tentu saja untuk berbagai kegiatan yang tidak hanya training saja.

Fungsinya untuk menilai semua aspekdari training yang sudah berlangsung.
mulai dari aspek persiapan, pelaksanaan, hingga sesi akhir training, bahkan paska training.

jadi evaluasi dapat meliputi evaluasi internal dan eksternal.

Evaluasi internal adalah evaluasi kegiatan training yang menjadi tanggung jawab kita.
dari persiapan hingga melaksanakan. barangkali ada masalah dengan klien di awal, kesulitan membuat konsep, ada barang yang tertinggal, kesalahan, atau malah berbagai hal yang baik-baik dari tim anda. anda berhasil membuat orang yang awalnya canggung jadi ekspresif, atau anda berhasil menguasai peserta dengan sedemikian baiknya.
semua evaluasi yang bisa diAMATI

semuanya..
untuk memberikan penilaian atas training kita, sehingga kita tahu kelebihan dan kelemahan, entah itu keseluruhan kegiatan, personal trainer, atau kondisi di lapangan. sehingga yang baik bisa di latih terus dan ditingkatkan, yang menjadi kelemahan dapat dikurangi dan dihilangkan untuk training ke depan.

evaluasi training juga meliputi evaluasi eksternal.
yaitu evaluasi dari dan kepada peserta.

Kickpatrick, seorang trainer profesional membagi level evaluasi.
level 4# Result/hasil (level tertinggi)
level 3# Behavior/Perilaku
level 2# Learning/Pembelajaran
level 1# Reaksi Peserta

bagaimana penjelasan dari level-level tersebut

lanjutkan membaca vol.2  
DETERMINE 2# (Kickpatrik, Level of Evaluation)
read more

DELIVER (Seni Memberi yang tak Sekedar Memberi)

sumber: http://clearedinc.webs.com
Langkah pertama, melakukan diagnosa
Langkah kedua, men-desain training

Selanjutnya, adalah action..
ini adalah waktunya, di mana diagnosa kita akan diuji dan desain kita akan dibuktikan keampuhannya.

Wow,, sungguh-sungguh berharga moment yang satu ini.
moment di mana kita, para trainer bertemu langsung dengan orang-orang yang sudah kita dalami profilnya. orang-orang yang kita mungkin belum pernah bertatap muka dengan mereka, tapi sudah kita buatkan konsep acara yang hebat buat mereka

DELIVER.. berarti menyampaikan, mengantar, memberi.
kalau dipanjangkan, maka akan menghasilkan deskripsi bahw deliver adalah menyampaikan training sesuai dengan konsep training yang telah dibuat.

Jadi konsep yang tadinya hanya teori praktis dan beberapa imajinasi, kini akan ditunjukkan secara praktek. menarik bukan. kalau anda baru dalam memberi training, pasti akan begitu berharapnya konsep yang sudah susah payah anda buat, sukses besar. bukan saja yang baru, trainer yang sudah berpengalaman menaruh harapan besar pada proses deliver ini.

karena konsep yang dibuat hanya akan menjadi omomg kosong, jika deliver nya gagal. karena diagnosa yag dibuat hanya akan menjadi informasi belaka, jika deliver jauh dari baik.

Ibarat membuat kue. bahan sudah ada (informasi), komposisi sudah lengkap, dan panduan pembuatan sudah siap. namun kue yang dibuat terlalu banyak telur, atau hangus, atau tidak bantet. Pelaksanaan tidak sesuai dengan panduan, hasil tidak seperti yang diharapkan, dan bahan baku sudah terpakai untuk kue yang salah jadi itu.

Jadi pelaksanaan training menjadi moment penting,

Ini saya sebut sebagai moment memberi, tapi tidk sekedar memberi, karena butuh banyak seni (baca: skill) untuk membuatnya berhasil.

seorang trainer harus dibekali dengan banyak hal untuk sukses dalam hal ini, dan tentu saja JAM TERBANG (pengalaman) menjadi salah satu faktor penting.

#skill berkomunikasi
#skill management kelompok
#skill public speaking
#skill mengkreasikan acara
#skill membangun trust dengan peserta
#skill improvisasi
#skill memandu
#skill mengarahkan
#skill membuat slide
#skill memasang instalasi dalam game
#skill memotivasi

#dan daftarnya masih panjang untuk dilanjutkan.

Inilah pembuktian dari seni training. Penguasaan kelas/forum, pembangkitan semangat, ataupun sharing yang berkualitas. di sini akan terlihat kualitas trainer, di lapangan sebenarnya.

Proses ini tidak bisa sekedar dipelajari dengan teori.
namun PRAKTEK, praktek, praktek, dan praktek.

semakin anda banyak aktif dalam deliver sesungguhnya, anda akan semakin terbiasa dan skill anda meningkat.
seseorang akan mencapai tingkat profesional setelah melewati 10.000 jam, untuk belajar hal-hal yang menjadi bidangnya.

Anda ingin hebat dalam DELIVER, belajarlah lalu praktikkan.

jika anda tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan peserta langsung, belajarlah dengan cara roleplay atau simulasi. memang sederhana rumusnya, praktikkan dan jadilah kreatif.

semakin anda BELAJAR, semakin anda PRAKTEK, semakin anda HEBAT
read more

September 24, 2012

Outbound itu TRAINING, Nggak Percaya ??

Training itu apa sih..?
Training itu secara ringkas adalah proses merubah pemikiran, sikap, dan perilaku, dari yang tidak diharapkan menuju yang yang diharapkan.

Lalu, jika ditanya, apa itu Outbound..?
apa jawaban anda?
kegiatan bermain, bersenang-senang, refreshing, ada game-gamenya, basah, lelah, tapi tambah akrab, dan sarana melepas stress dari dunia nyata, bla..bla...bla.............

jawaban yang barang kali akan panjang.

Tapi jika saya katakan pada anda, bahwa OUTBOUND itu TRAINING.. apakah anda percaya?

ya.. karena memang demikian adanya.. Outbound itu pada dasarnya adalah salah satu dari jenis Training.

Ada berbagai macam jenis training. Ada tipe seminar, On the Job Training, Magang, Simulasi, Roleplay, Studi kasus, Games, Modeling, Training Kelompok, Adventure Training, dll. Adventure Training itulah yang secara bahasa sehari-hari disebut Outbound.

Adventure Training adalah training berbau lapangan. Rafting, rapelling, sampai yang permainan low-impact seperti spider web, perang air, dan sebagainya.

Game itu sendiri hanya sebuah sarana. sama seperti ketika dalam training indoor, ada trainer yang memakai video, cerita, puisi barangkali, dan lain sebagainya, yang itu semua hanya media untuk menyampaikan pesan kepada peserta.

begitu juga game, adalah media penyampai pesan kepada peserta. Kelebihan dari Outbound adalah, trainer yang berkualitas telah mendesain sedemikian rupa permainan yang ada, sehingga akan memberikan pengalaman nyata bagi peserta. Maksud dari pengalaman nyata adalah peserta diajak untuk langsung merasakan bagaimana rasanya bekerja sama, berkorban, dan berkomunikasi dalam tim.

Yang kemudian, pengalaman-pengalaman ini akan diangkat ke permukaan dengan teknik tertentu yang dilakukan trainer. entah diskusi, menunjukkan foto, menciptakan suasan, atau lainnya. sehingga proses pemahaman disertai langsung oleh kesadaran tentang rasa dan cara melakukan. misal orang diajarkan tentang sikap tanggung jawab. dalam game yang didesain untuk melihat masalah tanggung jawab, peserta akan mengerti rasanya memiliki tanggung jawab dalam sebuah game. ia merasakan simulasi tanggung jawab. ketika trainer memaparkan tentang teorinya, secara fisik ia sudah tahu karena sudah merasakan. tinggal bagaimana cara trainer, menginternalisasikan apa yang telah diperoleh peserta, agar apa yang telah dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan di kantor atau organisasi.

Jadi Game hanya media belajar saja.
dan Outbound adalah bagian dari cara-cara Training.
Bisa saja materi tentang tanggung jawab tadi diberikan dalam training indoor.
atau bisa juga digabungkan dengan sesi outbound dan sesi indoor.

semua tergantung apa yang akan dituju, bagaimana kondisi dan situasinya.
Intinya, tujuan utama memilih cara Training adalah untuk mencapai efektivitas mencapai tujuan yang diharapkan.

jadi OUTBOUND itu TRAINING juga..

sumber: http://www.solutionsdeveloped.co.uk

______________________________________________________
read more

DESIGN atau DESAIN ?? (sama artinya, Jelas Pentingnya) 1#

-gagal merencanakan, berarti merencanakan gagal-

Anda sekeluarga ingin pergi dari Jogja ke Bandung. Keluarga yang akan anda ajak jumlahnya 9 orang. dengan barang bawaan masing-masing. dan rencananya di bandung anda akan mengajak keluarga anda 2 hari berkeliling kota bandung, mengunjungi tempat-tempat wisata di sana. dari ujung hingga ujung kalau bisa.

kendaraan apa yang akan anda gunakan untuk ke sana. motor, mobil, mini bus, bus, truk, kereta api, pesawat, atau helikopter.
anda sudah tahu kondisi dan harapan di lokasi tujuan. apa anda akan menggunakan motor? anda perlu setidaknya 5 motor, dan touring bersama menuju Bandung. tapi apakah itu efektif.. malah-malah sekeluarga anda capek di jalan, dan juga lebih rawan kecelakaan. Kalau hujan akan repot sekali. Atau mau menggunakan kendaraan umum, yang barangkali juga akan repot. atau akan menyewa mini-bus, memakai mobil atau sewa helikopter barangkali. 
Anda sesuaikan dengan dana dan kemampuan. Harapan Anda, perjalanan anda menyenangkan, efektif, dan aman, sekaligus anda sekeluarga bisa terus bercengkerama.


Merencanakan pergi ke Bandung, bisa menjadi gambaran merencanakan Training atau Outbound. anda bisa memperkirakan akan membawa apa saja ke bandung, naik apa, dan bagaimana caranya.

Sama, dalam training, mendesain berarti merencanakan Training. Merencanakan akan memberikan training atau Outbound yang seperti apa, dengan cara bagaimana, dan dengan waktu berapa lama. Agar mencapai tujuan.

TUJUAN YANG MANA ..?
masih ingat bahwa kita sudah masuk dalam tahap ke dua membuat training. Tahap pertama nya adalah mengumpulkan informasi dari klien untuk memahami berbagai hal yang diperlukan. Sebutannya adalah Diagnose. Kalau belum membaca, Anda perlu tahu dulu bagian diagnose ini, (buka artikel Diagnose 1# atau Diagnose 2#)

Jadi tujuan yang dimaksud, tujuan dari klien. Design ini diartikan juga sebagai teknik membahasakan informasi yang sudah didapatkan ke dalam konsep atau rencana Training atau Outbound.
bagaimana cara membuatnya anda bisa lihat di artikel ke 2 di sini (DESIGN atau DESAIN ?? (sama artinya, Jelas Pentingnya) 2#). 

Pentingnya melakukan pembuatan KONSEP yang JELAS, adalah agar ada rencana matang tentang Traning yang akan dilakukan. Tahu bagaimana alur cerita yang akan dibangun, tahu bagaimana mengondisikan peserta, tahu cara membuat konsep. Yang nantinya akan terbentuk yang biasa disebut modul training. Saya secara khusus juga telah membuat artikel tentang Modul Training, klik di sini.

Apa fungsi men-Desain ?
1# membuat modul, membahasakan informasi yang bersifat teori ke bentuk teori praktis
2# Desain Konsep acara yang ada di dalam modul akan menggambarkan Training yang akan dilakukan. Sehingga gambaran Training menjadi jelas.
3# Desain Konsep acara memberikan informasi tentang training untuk dipahami klien. dan juga oleh Trainer dan co-Trainer.
4# Persiapan dan kebutuhan dapat dilihat dengan jelas. Sehingga segala kekurangan perlengkapan dan kesalahan pelaksanaan, serta miss-com dapat di minimalisir.


men-Desain Training, adalah nyawa tersendiri bagi sebuah training. Sama seperti ketika penjahit baju akan membuat baju. Ia perlu mendesain pola, memperkirakan bahan, dan menyiapkan perlengkapan. Tanpa desain pola, bisa jadi baju yang dibuat justru ukurannya tidak pas, atau malah tidak jadi sama sekali.

Jadi ini langkah ke dua super-super penting. Jadi, meninggalkannya sama dengan menggagalkan training..

baca juga :

DESIGN atau DESAIN ?? (sama artinya, Jelas Pentingnya) 2# 
DIAGNOSE 2# (Langkah Awal Super Penting) 
DIAGNOSE 1# (Mencari Tahu Apa yang Perlu)
read more

September 22, 2012

DIAGNOSE 1# (Mencari Tahu Apa yang Perlu)

Ini adalah alur pertama untuk membuat suatu Outbound atau Training.

# Diagnose #
untuk membuat Training yang baik dan tepat serta berdampak bagi peserta, maka perlu untuk memahami terlebih dahulu apa yang diperlukan oleh peserta, atau klien.
Mengapa?? karena kita perlu tahu dulu informasi-informasi yang sesuai untuk memberikan outbound atau training yang tepat. Seperti kita mau pergi jalan-jalan, kita perlu tahu berbagai hal tentang kondisi cuaca, lingkungan, kemacetan, kemana akan pergi. Informasi ini nantinya akan kita gunakan untuk menyesuaikan apa yang perlu disiapkan. Perlu payung kah? pakai mobil atau motor atau naik bus kah? bawa baju tebal atau tipis, dan sebagainya.

Demikian pula informasi tentang klien, membantu kita untuk menentukan apa yang bisa kita berikan untuk klien. Sekaligus menentukan apa kebutuhan klien dan menyesuaikan dengan kemampuan kita sebagai trainer.

Sama seperti jika kita penjual kue ulang tahun. maka ketika ada pelanggan mau memesan kue, kita akan bertanya kue seperti apa, dihias kayak apa, seharga berapa, atau lainnya?

Jadi sudah paham pentingnya. Kita perlu tahu apa kebutuhan dan maunya klien untuk menentukan apa yang akan diberikan untuk klien, sehingga kita bisa mengatur strategi yang tepat.

informasi-informasi yang perlu didapatkan dari klien, antara lain
# Analisis Kebutuhan (analisis masalah, analisis tujuan)
# Latar Belakang Peserta (asal, status, jumlah, dll)
# Kondisi Klien
# Biaya yang disepakati
# Tempat yang disepakati
# dan lain-lain

mari kita cek satu per satu ..

1. Analisis Kebutuhan
dalam bahasa yang lebih terkenal yaitu Need Assesment. mencari tahu apa masalah yang dihadapi oleh klien atau tim-nya. Yang pertama cari tahu apa tujuan klien. Misal ada klien minta fasilitasi outbound.
Cari tahu dulu apa tujuan klien. apakah untuk refreshing, apakah untuk upgrading tim, apakah untuk meningkatkan kekompakan, atau untuk tujuan lain.
Tentu tujuan ini akan beda antar satu klien dengan klien yang lainnya. misal mereka ingin pelatihan dalam bentuk outbound, keinginan mereka pun beda-beda. ada yang ingin tentang leadership, team building, loyalitas, dan lain sebagainya.
Nah, kita harus tahu apa tujuan mereka meminta fasilitasi outbound.
Need Assesment perlu didalami lagi untuk mengetahui mengapa klien minta fasilitasi yang demikian itu. Apa karena memang untuk upgrading, atau untuk perbaikan, atau untuk penciptaan dinamika kelompok. Alasan itu akan semakin menjadi informasi yang kuat untuk kita, untuk memahami dinamika klien. Nah ini pun harus memperhatikan apakah klien berkenan untuk didalami, atau tidak. jangan memaksa klien jika tidak mau.
Kadang, bisa juga terjadi klien merasa bahwa kekompakan tim mereka kurang, padahal sebenarnya yang salah adalah masalah integritas. Klien merasa bahwa anak didik mereka tidak patuh, padahal sikap gurunya yang membuat nya seperti itu. Kadang klien salah memahami sumber masalah. sehingga kita sebagai fasilitator dapat mencari tahu sumber yang tepat dan memberikan saran kepada klien.
Sehingga klien tidak salah target dalam mengikuti atau mengikutkan traning kita.

2. Latar Belakang Peserta
Trainer perlu tahu latar belakang peserta. Umur para peserta. apakah dicampur antara anak dengan remaja, atau umur 30 tahun ke atas. ini berfungsi agar kita tahu tentang aktivitas apa yang tepat. tentu saja orang tua berumur 50 tahun ke atas, perlu pendekatan aktivitas berbeda dari pada anak-anak dan remaja, (kita perdalam di artikel Design)
selain itu cari tahu jumlah peserta. perlengkapan, tempat, tenaga akan sangat terkait dengan jumlah peserta. Jumlah peserta juga dapat memberikan informasi berapa lama outbound dapat dilaksanakan.
Perlu juga tahu apa status mereka. Anak sekolah, guru, eksekutif, masyarakat lokal, atau siapapun. sehingga akan bermanfaat menentukan cara dan arah komunikasi kita kepada peserta. Informasi tentang Latar Belakang peserta akan menyiapkan kesiapan trainer, agar tahu pendengar seperti apa yang akan dihadapi. Anda perlu memberikan stimulus berbeda dan menyikapi peserta secara berbeda, karena berbeda latar belakang, beda sikap mereka, harapan mereka, tujuan, pengalaman, sifat, dan berbeda di sisi yang lain.

3. Kondisi Klien
Latar belakang peserta diberikan sudah tahu. sekarang lihat kondisi peserta. Mereka orang yang seperti apa. apakah mereka orang-orang yang fit dengan tenaga berlebih, atau peserta adalah sekelompok orang yang sangat akrab atau justru kebalikan.
anda bisa menemukan informasi ini, bersamaan saat mencari informasi dalam Need Assesment.

4. Biaya yang disepakati
Harus ada kesepakatan yang sesuai dengan biaya. Biaya bisa saja relatif, di mana antar penyedia fasilitas Outbound dan Training bisa saja berbeda.
Biaya yang ada akan membantu kita untuk menentukan operasional, fee untuk fasilitator, ataupun profit. Intinya, informasi ini akan berguna agar kita melakukan pengelolaan biaya secara tepat

5. Tempat yang disepakati
Tempat juga informasi yang penting dipahami. apakah tempatnya di tempat kita, kita yang mencarikan, atau klien yang menentukan. Tempat ini perlu di beri

6. dan lain-lain
Informasi lainnya juga ada yang kadang diperlukan. misal sebelum materi kita, atau outbound yang kita pandu, apakah sebelumnya ada kegiatan. kalau ada, kegiatan apa dan sudah berapa lama. Bisa jadi sebelum kita tampil, ternyata peserta sudah dihabis-habiskan tenaganya, dan ketika bertemu kita tinggal sisa-sisa tenaga. Kalau kita pikir mereka masih fresh, padahal kondisinya jelas berkebalikan.. wah... bisa kacau ngasih training nya. bukannya berhasil malah stress sendiri, apalagi jika respon peserta jauh dari harapan.

DIAGNOSE itu seni, perlu didalami. barangkali ada berbagai hal yang perlu didalami lagi, ada yang perlu di gali lagi. Maka kita harus cerdas menggali informasi, agar dapat memberikan stimulus yang tepat untuk hasil yang optimal. Yang pasti ini tidak boleh dilewatkan, karena merupakan hal yang penting untuk menindaklanjuti dan memberikan obat yang tepat bagi masalah yang ada

lanjutkan membaca diagnose 2# (klik di sini)
read more

4D, Art of Training (Diagnose I Design I Deliver I Determine “Seni Membangun Training Yang Super”)

Kemampuan untuk memberikan Training perlu terus diasah dan dilatih akan menjadi semakin professional. Para ahli percaya bahwa nilai Profesionalitas itu = 10.000 jam. Jadi orang yang ahli dan benar-benar professional di bidangnya, setidak-tidaknya telah memiliki jam terbang terhadap keahlian itu sebanyak 10.000 jam.

Jumlah yang cukup banyak ya.. namun jika jam demi jam, setiap hari kita kumpulkan dan disiplin terus kita berlatih, nanti kita lama-lama juga akan mencapai 10.000 jam. Hitung saja sehari kita berlatih 4-5 jam. Maka dalam waktu lebih kurang 6 tahun kita akan menjadi professional di bidang yang kita geluti. Termasuk ini kegiatan yang bernama Outbound. Semakin kita latih semakin ahli saja kita menjadi Trainer.
Kali ini saya ingin membongkar sisi teknis dari Outbound dan Training. Sisi teknis tentu tidak lepas dari sisi teori, jadi teori jangan lupa juga. Karena teori dan teknis hubungannya adalah saling mendukung. Yap, kali ini kita akan belajar bagaimana sebuah training dibuat hingga di evaluasi.
Ini adalah proses para Trainer mengkreasikan Training atau Outbound yang mereka lakukan.

Mereka menyebutnya sebagai 4D.

Tenang…
Saya akan jelaskan satu-per satu..
Namun untuk lebih detailnya, anda bisa melihat satu per satu artikel yang membahas tentang hal tersebut.
Ini dia penjelesan tentang  4D, langkah membangun Training dan Outbound
Anda tentu bisa meraba apa arti dari singkatan ‘D’ yang pertama ini. Kalau dalam bahasa kedokteran, kita biasa mendengar diagnosis. “dokter mendiagnosa penyakit di perut” atau “dokter mendiagnosa ada kelainan di…”
Diagnosa secara mudah mungkin bisa diartikan pemeriksaan. Jadi tidak sekedar diperkirakan karena sudah ada pemeriksaan. Coba anda ke dokter, menyatakan keluhan sakit perut, dan dokter nya langsung bilang mungkin anda sakit ginjal.. Lantas apa anda percaya begitu saja, lha wong belum ada pemeriksaan. Anda malah mungkin akan mengatakan “ah… mana mungkin Dok..”.
Coba perhatikan urutannya. Ada keluhan, lalu dokter memeriksa (diagnose), dokter menyampaikan hasil.
Urutan ini menggambarkan pula jika diterapkan dalam Training.
Jadi, untuk memberikan Training, perlu ada diagnosa pada klien yang akan kita beri Training atau Outbound. Agar kita tahu, apa mau klien, bagaimana kondisi peserta, apa tujuan klien, apa permasalahan yang dialami klien sehingga mengadakan Training. Kita mengadakan diagnosa juga supaya tahu latar belakang peserta, kondisi mereka, jumlah, dan lain sebagainya.
Untuk mempelajari lebih jauh tentang Diagnose, buka artikel berikut (klik di sini)
Setelah didiagnosa, selanjutnya adalah langkah super penting dalam Training.
Anda tahu?
Ya benar, .. Mendesain alias membuat konsep Training atau Outbound. Inilah seni kedua dari Training. Trainer harus mampu membahasakan hasil diagnosa ke dalam bentuk konsep kegiatan. Bagaimana tujuan training dari diagnosa, dapat dicapaikan melalui training.
Bagaimana latar belakang peserta tertentu harus dapat di fasilitasi. Bagaimana suatu permasalahan yang dihadapi klien dapat dituntaskan melalui Outbound atau training ini..
Tampak berat..?
Ya.. (beberapa Trainer ahli bahkan memerlukan 12 jam membuat konsep, untuk mengisi 3-4 jam saja. Apalagi untuk 2-3 hari atau bahkan 1-2 pekan)
Memang ini adalah proses super penting. Seakan ini menjadi langkah mengatur strategi sebelum bertanding. Strategi yang salah dapat menyebabkan gagal dan kekalahan. Maka anda akan memulai keberhasilan Outbound atau Training dari konsep anda. Training dengan Film, dengan ceramah, diskusi, atau Outbound dengan Game 1, 2, 3, dengan rule a, b, s. Anda akan harus membuat rencana dan gambaran yang tepat dan seusai.
Bisa dikatakan porosnya di sini. Diagnosa bisa benar, tapi kalau Design nya salah, selanjutnya akan salah. Outbound atau training bisa berjalan baik, tapi kalau design nya salah, mana bisa menghasilkan tujuan yang diharapkan. Diagnosa memberi anda komposisi, dan Design menantang anda untuk mengatur komposisi agar sebuah roti yang baik dapat tercipta. Kalau pengaturan komposisi salah bisa jadi bukan roti yang terbuat, tapi adonan rusak.
Untuk tahu lebih dalam tentang Design, buka artikel berikut (klik di sini)
Sudah tercipta konsep, seni selanjutnya.. adalah menyampaikan Outbound atau Training. Lagi-lagi masalah membahasakan. Kali ini anda ditantang untuk membahasakan konsep ke dalam aktifitas lapangan yang bersifat fisik. Ingat, Design itu ada di atas kertas, atas hasil pemikiran dan diskusi. Dengan kata lain design itu TEORI. Sedang deliver, kita berbicara TEKNIS di lapangan.
Kita berbicara bagaimana melakukan instalasi, bagaimana membuat peserta tertarik, dan bagaimana menyampaikan Outbound atau Training dengan menarik.
Skill lain dari Outbound. Jadi memang kita sedang berbicara multiple skill. Skill mendiagnosa, mendesain, dan seni menyampaikan. Komunikasi, empati, dan berbagai skill diperlukan dalam proses deliver ini. Wow..
Jadi jika ingin mengetahui lebih jauh tentang Deliver (cek di sini)
Ini colling down nya.. tapi tetap menjadi proses penting. “determine” yaitu melakukan evaluasi dari Outbound yang telah anda lakukan. Evaluasi tentu penting, karena akan memberikan masukan lebih atau kekurangan dari pelaksanaan. Jadi bisa diperbaiki lagi untuk yang akan datang.
Tapi evaluasi tidak sesederhana ini juga. Evaluasi hasil peserta, apakah tujuan tercapai. Tentang ekspektasi peserta, tentang perubahan dari diri peserta. Bahkan ada perhitungan khusus tentang sejauh apa keuntungan klien dari Training yang diberikan.
Cari di search engine tentang ROI (Return of Investment), tentang konversi hasil training ke bentuk uang.
Jadi selain evaluasi Internal, juga ada evaluasi eksternal kepada klien.
Karena kesuksesan training ditentukan pada DAMPAK apa yang dihasilkan dari Training, bukan sekedar pelaksanaan.. Ok
Untuk lebih tahu tentang evaluasi (anda bisa lihat di sini)
 
Itu tadi langkah-langkah dasar membangun Outbound atau Training..
Dan penting untuk dipahami, dan karena dasar ada berbagai skill pengembangan yang perlu dimiliki. Dan kita akan belajar secara lebih detail tentang 4D.

read more

September 21, 2012

Semua Suka Bermain 5#, Bagaimana Oubound menjadi Media Pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan

Membuat Outbound memiliki energi dan ruh belajar, adalah tantangan bagi para fasilitator Outbound. Agar Outbound tidak hanya melulu dapat dinikmati untuk porsi bersenang-senang, namun juga masukan yang efektif untuk belajar. Belajar untuk menghargai, belajar untuk loyal, belajar untuk kreatif, belajar tentang menajemen, dan belajar yang lain tergantung tujuan.

TUJUAN !!
itu adalah kunci pertama mengangkat dan melambungkan efektivitas Outbound.
Ada Outbound yang memang hanya ditujuan untuk Senang-senang dan Keakraban. misal outbound keluarga atau Reuni.
Ada Outbound yang bertujuan untuk membuat anak-anak kelas 6, lebih percaya diri untuk menghadapi Ujian Nasional.
Ada Outbound yang bertujuan agar para siswa sekolah memiliki cita-cita dan motivasi tinggi
Ada Outbound yang bertujuan agar para guru mampu mengayomi para siswa
Ada Outbound yang bertujuan agar karyawan menjadi lebih disiplin
Ada Outbound yang bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri
Ada pula Outbound untuk olahraga
Bahkan Outbound untuk sarana peningkatan kualitas spiritual.

Ba...nnnyakkk..
itu barangkali yang ada dalam benak anda..
TAPI, daftar itu masih sedikit... sekali, dibanding apa yang masih dapat dituliskan..

TEGAS saya, jadi jika Anda ingin mengadakan Outbound, pahami apa tujuannya.
Kalau anda bingung, maka anda dapat melakukan need assesment, dan menentukan apa kebutuhan dari tim anda. Beruntunglah juga jika ada fasilitator yang menyediakan fasilitas ini.

(untuk pengetahuan tentang need assesment, nanti akan dibahas di artikel lain)

Kalau anda belum tahu, atau tidak mau tahu tentang tujuannya. asal OUTBOUND saja...
anda tetap mendapat manfaat senang, dan refreshing.
Tapi sayang sekali bukan. anda sudah keluar dana, mengapa tidak sekalian Outbound ini menjadi media belajar atau menjadi sarana pemecahan masalah tim anda, atau diri anda sendiri.

Jadi, APA TUJUANNYA..??

TEPAT !!
Tujuan saja belum cukup. karena tahu tujuan, berarti anda punya peta. tapi anda belum tahu cara menuju ke bagian harta karunnya. maka di sini anda perlu fasilitator yang berkualitas, untuk membuatkan anda konsep tentang Outbound yang akan dilakukan. detailnya, dan bagaimana Outbound bisa mencapai tujuannya.

Jika anda adalah fasilitator yang membuat konsep, dan nantinya akan memandu. Buatlah konsep yang tepat dari tujuan dan nedd assesment yang ada. misal anda akan meng-outbound 150 anak SMP kelas 1, yang tujuannya adalah untuk membuat anak-anak sadar sosial. anda bisa membuat konsep outbound dengan menentukan outbound di pedesaan dan dekat warga, dan anda pilihkan game yang interaksional.
itu contoh saja. Anda bisa saja lebih kreatif, lebih inovatif, dan lebih agresif.

No.Problem.. yang penting anda paham apa tujuannya dan anda dapat memberikan outbound yang tepat

EXPERIENCES PESERTA !!
ini tidak boleh anda lupakan.. apa itu..
(saya akan tulis penjelasannya dalam artikel khusus, tunggu ya...)

DEBRIEF !!
(ini juga, saya akan tulis penjelasannya dalam artikel khusus, tunggu ya...)




apakah cukup 4 itu,..?
saya katakan belum..
Situasi, Kondisi, Kemampuan Trainer, Kerjasama dari Peserta, Latar Belakang Peserta, Cara, Tempat, dan lain sebagainya sangat berpengaruh.. Jadi kita harus mempelajari semuanya

Maka saya katakan, Outbound itu Seni. Seni komunikasi, seni memimpin, seni mengajar, seni mempengaruhi, seni mencipta, dan seni lainnya. Kita harus belajar dan paham untuk mempelajari seni melakukannya. untuk mempelajari itu, silakan baca bagian Outbound di header. 

Karena seni, maka belajar lah terus, agar kemampuan anda meningkat. 
Blog ini semoga sedikit banyak dapat memfasilitasi anda untuk belajar tentang training..

silakan komentar,
atau anda bisa sms saya di 083869683993

baca lainnya:

Semua Suka Bermain 2# Bagaimana Permainan Mendongkrak Kemampuan Menerima dalam Pembelajaran

Semua Suka Bermain 3#, Menciptakan Bermain yang membuat mereka Belajar 

Semua Suka Bermain 4#, Outbound "Media Belajar atau Pendamping Belajar??

read more

September 20, 2012

Semua Suka Bermain 2# Bagaimana Permainan Mendongkrak Kemampuan Menerima dalam Pembelajaran

Berarti dalam artikel vol.2 ini, kita sudah setuju ya.. bahwa bermain diSUKAi semua orang. Baik anak-anak sampai yang sudah kakek nenek. Saya pernah mengisi kegiatan outdoor game untuk peserta usia di atas 50 tahun. Dan wow.. sungguh-sungguh terjadi, para kakek nenek tertawa seperti kembali muda. Ada yang awalnya jalan selalu pelan, tiba-tiba pas kegiatan tersebut, beliau bisa lari kesana kemari. Ya meski kecepatan lari ala nenek-nenek, tapi wajahnya mengungkapkan rasa puas dan senang yang luar biasa. Jarang kan, kita melihat kakek-nenek tertawa terpingkal-pingkal dan bereaksi seperti anak-anak. Kenyataannya, begitulah ketika beliau-beliau mendapat kesempatan untuk ditantang dengan permainan-permainan tertentu.
Nah, semakin jelas.. kalau yang kakek nenek saja masih senang bukan main, ketika bermain.. apalagi yang belum kakek-nenek.. pun anda yang berumur 30-50 tahun, juga pasti senang. Kecuali anda sedang berusaha mengelak karena malu pada status anda yang sudah bapak, atau status anda yang seorang pimpinan. Tapi apapun status anda, siapapun anda, dan di mana pun anda berada,, kita simpulkan satu hal.. Bahwa anda semua, dan semua orang suka bermain.

Pada dasarnya, ketika siapa saja mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan yang disukai, maka ia akan merasa senang. Ada orang yang suka memancing, ketika memancing.. itu orang pasti puas, apalagi kalau dapat ikan (senangnya pasti luar biasa). Ada yang suka melihat sepak bola, ada yang suka catur, ada yang suka wisata kuliner, ada yang suka nonton bareng, ada yang suka makan bareng, ada yang suka tidur bareng (uppsss… jangan negative dulu), atau suka mandi bareng (hehehe.. jangan negative juga. Kalau mandi-in anak nya kan bisa aja. atau mandi sama istri kan boleh –Dah jangan dibayangin- eh malah kebayang-bayang kan, hehehe).

Intinya, kalau tuh orang-orang pada melakukan aktivitas yang jadi kesenengan pastilah bawaannya seneng (dengan syarat aktivitasnya lancar jaya…).

Nah, kalau bermain adalah kegiatan yang disukai sama semua orang, tentu pastilah semua orang akan senang jika melakukan aktivitas yang namanya BERMAIN.. sederhana bukan.. tapi yang sederhana ini nantinya akan jadi penting.

Para psikolog meyakini, bahwa perasaan senang merupakan emosi positif dalam diri manusia. Saya pikir bukan cuma psikolog yang meyakini, tapi semua orang juga setuju dengan hal itu. Emosi positif ternyata diyakini mampu meningkatkan daya terima seseorang dalam belajar. Silakan bandingkan sendiri, anda lebih mudah menerima informasi ketika stress atau ketika senang. Tentu lebih gambang ketika senang bukan..
Terbukti kan, kalau senang memudahkan kita untuk menerima informasi. Pola berpikirnya sudah anda dapatkan bukan. “Emosi positif menyebabkan orang mudah dalam mempelajari sesuatu. Dan Bermain membuat orang senang (senang=emosi positif). Sehingga = Bermain adalah media yang menyebabkan orang mudah belajar”. Namun, tentu ada syarat dan ketentuan yang berlaku agar rumus ini berdampak. Dan syarat-syarat tersebut akan kita bahas pada artikel vol. 3#.

Tentu yang saya maksudkan belajar bukan sekedar belajar formal, atau di dalam kelas. Namun belajar lainnya juga, seperti belajar tentang karakter, leadership, organisasi dan lain sebagainya. Bagi para siswa, bagi para karyawan dan staff, bagi mahasiswa, bagi dosen, guru, pegawai negeri, anggota parpol, pengurus organisasi, dan bagi siapapun.

Karena blog ini berisi tentang ilmu outbound dan training, saya ingin mengatakan bahwa perasaan senang ini menjadi salah satu dari beberapa kelebihan dalam pembelajaran lapangan (baca:outdoor activities). Bagaimana itu bisa terjadi, ulasannya ada dalam artikel berikut ini, di artikel vol.4#
read more

Semua Suka Bermain 1#, Permainan sebagai sebuah Sarana dan Media Pembelajaran

Belajar !! tentu semua setuju, bahwa belajar dapat dilakukan dimana saja. bahkan ada ungkapan bermain sambil belajar. yang menggambarkan bahwa ternyata dari bermain seseorang bisa belajar. Banyak orang mengira bahwa ungkapan yang demikian itu hanya tepat diberikan untuk anak-anak. Memang ya.. kita setuju bahwa masa kanak-kanak adalah masa bermain.
tapi apakah ada larangan bagi orang dewasa untuk bermain. toh, banyak orang dewasa yang masih suka bermain. entah itu olah raga yang sifatnya permainan (catur, tenis, badminton, futsal, dll) atau sekedar permainan refreshing, bahkan tidak jarang terlihat orang-orang dewasa masih senang berkejaran dan berlarian dengan teman-temannya. (tentu saja termasuk anda). Sebenarnya ini bukti sederhana bahwa manusia itu adalah makhluk yang suka bermain. dari masa anak-anak hingga orang tua, pasti dijamin senang diajak bermain.


Dengan kata lain, bermain itu adalah bagian dari perkembangan kita seumur hidup. anda akan suka permainan atau sekedar candaan setua apapun anda. Kalau anda melihat ada orang yang terlihat acuh pada permainan, bisa jadi anda salah. barangkali ia hanya sedang menjaga image-nya. agar terlihat terhormat, barangkali karena status usia atau jabatan.

tapi saya telah berkali-kali membuktikan, orang semacam ini ketika sudah disuguhi berbagai tantangan dan game dalam outbound, girangnya bukan main. bahkan mereka lupa tentang jabatan, usia, dan lainnya, malah hebatnya lebih ceria dan kanak-kanak daripada anak-anak sungguhan. bahkan beberapa ada yang berusaha berkarakter menjadi anak-anak. Seakan, outbound menjadi pelampiasan hasrat kekanak-kanakan yang mungkin telah lama terpendam. menjadikan outbound sarana yang baik dan tidak memalukan.

So, kesimpulannya adalah semua orang senang bermain. dan bermain bisa menjadi pendekatan yang baik untuk kehidupan sosial, budaya bahkan ekonomi, hukum.. dan lebih hebat lagi dari bermain sendiri (baik anak atau orang tua) mampu memberikan pendidikan moral.. wow.. apa tidak hebat itu.
efek belajar melalui bermain akan dapat terbentuk baik pada anak maupun orang dewasa. masalah utamanya adalah, tergantung apa yang dimainkan, untuk tujuan apa, dan bagaimana mengelola nya agar memberikan efek belajar.

di artikel selanjutnya saya akan membahas secara detail dan sedikit kajian ilmiah tentang hebatnya belajar melalui bermain bagi semua umur..
nanti kita akan lihat betapa hebatnya outbound (atau sekedar game indoor) bisa menjadi sarana belajar yang luar biasa dan memberikan dampak yang cepat dan dalam bagi anak-anak, remaja, maupun anak-anak.

Artikel Lanjutan :

Semua Suka Bermain 2# Bagaimana Permainan Mendongkrak Kemampuan Menerima dalam Pembelajaran

Semua Suka Bermain 3#, Menciptakan Bermain yang membuat mereka Belajar 

Semua Suka Bermain 4#, Outbound "Media Belajar atau Pendamping Belajar??

Semua Suka Bermain 5#, Bagaimana Oubound menjadi Media Pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan

 

read more

Siapa Nggak Kenal Outbound ??

Hampir semua orang mengenal OUTBOUND. ketika dilemparkan kata yang satu ini dan di tanya "Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata OUTBOUND.., pasti yang terbesit adalah hal-hal di lapangan. apa kira-kira? bisa lari-lari, aneka permainan, atau barangkali lumpur, basah, dan lelah, ataupun menyenangkan.

demikianlah Outbound telah menjadi sebuah simbol aktivitas outdoor yang bisa jadi favorit semua orang. tidak hanya favorit, dan bahkan erat kaitannya dengan hal-hal yang menyenangkan. hampir tidak ada yang tidak suka ketika diajak Outbound. bagaimana dengan Anda? Bagaimana nih, jika anda saat ini diajak untuk ikut Rafting, atau diajak Rappeling, dan pasti pula anda tidak akan menolak jika diajak bermain Paintball bukan (apalagi kalau GRATIS). (pertanyaannya siapa yang mau ngajak anda? hahaha,, bercanda ya..)

hampir semua setuju, (dan sepertinya termasuk anda) bahwa outbound adalah adalah aktivitas penuh keceriaan dan kesenangan. Inilah gambaran Outbound. barangkali anda yang merupakan owner perusahaan, atau bagian HRD akan sangat tertarik dengan outbound sebagai bentuk pengakraban karyawan, atau sebagai media pembelajaran dan pembentukan team building, tentu saja dalam suasana menyenangkan.
 
kalau bicara outbound sih,, memang sebenarnya banyak sekali yang bisa dibicarakan. apalagi bicara manfaat.. terlalu panjang daftar yang harus dirinci kalau ingin mengurutkan manfaat dari outbound. selain kegiatan yang satu ini punya segudang manfaat, outbound juga merupakan aktivitas yang bisa dilakukan oleh semua orang, semua umur, semua golongan, dan semuanya saja (tidak pilih-pilih). tapi barangkali kecuali bayi yang baru lahir ya.. hehehe..
 
Intinya, jika di rangkum maka dapat disebutkan bahwa yang namanya outbound itu, merupakan aktivitas yanga MENYENANGKAN, penuh MANFAAT, dan FLEKSIBEL untuk user-nya.
Nah, tapi ini belum selesai.. outbound bukan sekedar main yang ekstra keras dan mahal.. ada permainan-permainan yang sederhana namun syarat akan makna.. wow.. seperti apa itu..
 
maka tulisan dalam blog ini hadir untuk memperkenalkan kepada anda yang belum kenal dengan Outbound dan Training. untuk menambah wawasan tentang Outbound dan Training, bagi siapa saja. apa saja JENIS-JENISnya, bagaimana MELAKUKANNYA, bagaimana MEMANFAATKANNYA untuk diri sendiri, orang lain, organisasi, perusahaan anda. tentu saja blog ini ada, untuk membantu anda  mendalami dan memanfaatkan Outbound dan Training, tentu saja bagi diri sendiri, kelurga, organisasi, perusahaan, sekolah, siswa, atau bagi siapa dan apa saja.
 
Terlalu banyak yang harus diketahui, So.. mari kita mulai sekarang.. Saat nya belajar dan memanfaatkan.
 
SEMOGA BERMANFAAT BAGI ANDA
terakhir.. hari gini belum kenal Outbound... Apa kata Dunia...

salam
 
Erfan Ariyaputra
(trainer & motivator)
rfanzeroc@gmail.com
read more
Blogger Template by Clairvo